Tidak Lagi Mengundang Suasana Mistis, Inilah Museum Taman Prasasti
MUHAMMAD
FARHAN NAUFAL
News
Up – 03/06/2021, 10:30 WIB
Bekasi, News Up
- Museum Taman Prasasti terletak di tengah Ibukota Indonesia yang menyuguhkan
pemandangan gedung-gedung bertingkat saat saya melewati jalanan di ibukota dari
Kota Bekasi menuju Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Konon,
terdapat Makam Belanda bernama Kebon Jahe Kober seluas 5 hektar yang
ditempatkan di pusat Kota Batavia. Fakta ini tidak dapat dipungkiri karena
makam tersebut yang kita sebut dengan Museum Taman Prasasti saat ini. Namun,
makam tersebut telah direlokasikan ke beberapa tempat pemakaman di Jakarta dan
diambil oleh ahli waris/ keluarga.
“Sekarang
sudah tidak ada pemakaman, karena dulu pada masa pemerintahan Gubernur Ali
Sadikin dipindahkan ke Tanah Kusir karena tidak mungkin kan ada pemakaman dekat
dengan Walikota Jakarta Pusat dan Istana Negara, nanti menambah kisah mistis untuk
para pejabat negara.” Jelas Eko Wahyudi, pemandu wisata Museum Taman Prasasti.
Seperti
apa Museum Taman Prasasti sebenarnya ? Bapak Eko memandu saya untuk menelusuri
seluruh sudut museum ini yang berkonsep luar ruangan dengan suasana yang adem
akibat banyaknya pohon besar yang tumbuh.
Terdapat
banyak makam-makam patung bidadari ketika memasuki pintu utama museum. Jika
melihat ke sisi kiri, terdapat patung perempuan yang menangis.
“Perempuan
itu menangis karena suaminya meninggal karena penyakit Malaria, setelah itu istrinya
meninggal dengan menggantungkan diri”. Ujar Eko.
Tidak
jauh dari patung perempuan menangis, terdapat dua peti jenazah di dalam kaca yang
pernah digunakan oleh Bapak Proklamator Indonesia, Soekarno dan Moh. Hatta.
Sisi
kiri dari dekat dengan peti jenazah Presiden dan Wakil Presiden Pertama
Indonesia, terdapat makam istri dari Thomas Stamford Raffles yang bernama
Olivia Mariamne Raffles.
Penelusuran
museum ini mengundang suasana mistis setiap sudutnya mengingat kondisi museum
ini sangat sepi pengunjung saat saya melakukan kunjungan. Walau saya ditemani
oleh pemandu museum, suasananya pun sangat sunyi, tidak mendengar suara
burung-burung berkicau layaknya pemakaman masih ada di dalam komplek museum
ini.
“Untuk
berita-berita yang beredar tentang museum ini angker itu hanyalah legenda
buatan masyarakat yang sering diulang-ulang. Padahal museum ini telah
merelokasikan seluruh makam-makamnya ke tempat lain sehingga kesan mistis tidak
seperti dahulu ketika museum ini masih menyimpan makam-makam saat sebelum tahun
1975” Jelas Eko.
Walau
museum ini telah berdiri sejak lama, bangunan-bangunan di dalam komplek Museum
Taman Prasasti masih terawat dengan baik berbeda dengan beberapa peninggalan
batu nisan dan patung bidadari yang sudah tidak menjadi kondisi baik disebabkan
faktor alam.
“Kebetulan
Orang-Orang Belanda memahat batu-batuannya dengan menggunakan bahan yang bagus
karena jarang disini batu-batuan makamnya keropos, banyakan retak karena
tumbuhnya akar-akar pohon besar.” Jelas Eko.
Perawatan
yang dilakukan oleh museum terbagi menjadi dua bagian, perawatan ringan seperti
membersihkan dedaunan dan jamur-jamur yang tumbuh di batu nisan maupun patung
bidadari dan perawatan berat seperti menyambungkan koleksi patung bidadari yang
patah hingga batu nisan yang retak.
Museum
ini bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam hal melestarikan
museum yang telah didirikan sejak lama. Selain itu, Pemprov DKI telah
menyiapkan sebanyak 27 buah CCTV yang disebarkan di dalam komplek museum ini
untuk mencegah terjadinya pencurian benda-benda prasejarah.
“Museum
ini juga memiliki fasilitas satu pintu masuk dan keluar sehingga para
pengunjung dapat diawasi dengan baik oleh pihak keamanan dari museum.” Kata
Eko.
Dulunya
lonceng yang difungsikan sebagai penanda kunjungan museum berakhir pada saat
ini dijadikan sebagai penanda bahwa ada mayat yang ingin di makamkan di museum
yang luasnya 1.3 hektar ini.
“lonceng
yang terletak setelah pintu masuk museum sebenarnya digunakan untuk
pemberitahuan jika ada orang kolonial yang ingin di makamkan.” Jelas Eko.
Saat
ini Museum Taman Prasasti tidak mengadakan acara-acara khusus yang biasanya
sering diadakan. Namun, acara tersebut dialihkan menjadi acara prewedding,
pemotretan model-model dan berburu foto dari para fotografer.
“Kami
sementara tidak mengadakan acara yang berbasis pengetahuan seperti tur sekolah
karena kan lagi pandemi sekarang, tidak boleh ada kerumunan. Museum ini
menyediakan persewaan untuk masyarakat seperti foto prewed, foto keluarga dan
lainnya.” Jelas Eko.
“Wisatawan
juga biasanya hanya melihat-melihat koleksi sejarah, penasaran apa seperti apa
sih nisan-nisan yang terbuat dari Masa Kolonial saat menjajah Indonesia. Ada
juga yang meminta pihak museum untuk menjelaskan seluruh legenda yang terjadi
di museum ini, tapi paling sering sesi foto model ala kadarnya.” Kata Eko.
Meskipun
pengunjung museum ini sangat sepi, pihak museum mencari berbagai metode untuk
menarik perhatian masyarakat agar dapat melakukan kunjungan ke museum yang
menyimpan banyak sejarah ini.
“Untuk
menarik pengunjung adalah mempromosikan sosial media akun resmi @museumprasasti
dimana tim sosial media museum memposting kegiatan-kegiatan yang dilakukan
Pemprov DKI dalam mengawasi museum, jadwal operasional museum hingga kegiatan
edukasi. Ditambah di dalam museum ini kan ada makam Soe Hok Gie, sastrawan muda
Indonesia yang pernah dimakamkan disini.” Jelas Eko.
Museum
ini dikenal dengan menyimpan batu-batu nisan yang unik berciri khas Kolonial
Belanda dan Penjajahan Jepang. Museum Taman Prasasti bisa diakses melalui
Stasiun Commuter Line Tanah Abang, setelah itu dapat menggunakan
Mikrolet M 08 jurusan Tanah Abang – Kota dan turun di depan Gedung Walikota
Jakarta Pusat.
Lalu,
wisatawan dapat menggunakan Transjakarta dan turun di Halte Monas, setelah itu
berjalan kaki sepanjang 1.1 Km menyusuri samping Gedung Kementerian Komunikasi
dan Informatika dan berbelok ke kanan menuju Jalan Abdul Muis dan berbelok ke
kiri menuju Jalan Tanah Abang 1 dan tidak jauh, museumnya tepat berada di depan
persimpangan dan sampingnya terlihat Gedung Walikota Jakarta Pusat.
Untuk
pertama kali ke museum ini, para pengunjung disarankan untuk menggunakan tur
museum secara gratis karena tarif tiket sebesar Rp. 5.000 untuk dewasa, Rp.
3.000 untuk mahasiswa dan Rp. 2.000 untuk anak-anak ,- telah mendapatkan tur museum
yang akan dipandu oleh pemandu wisata.
Bagi
wisatawan muslim, terdapat Musholla yang disediakan di dalam komplek museum ini
mengingat cukup sulit menemukan tempat ibadah diluar komplek museum jika ingin
melaksanakan sembahyang.
Wisatawan
yang berasal dari luar Jakarta, wisatawan dapat menemukan hotel-hotel dengan
harga terjangkau yang tersedia di sekitar museum ini seperti di Jalan Cideng Barat
dan Timur, Jalan Gajah Mada, Jalan Ir. H. Juanda.
Para wisatawan pun tidak perlu kesulitan dalam mencari kuliner setelah
melakukan kunjungan ke museum ini karena terdapat banyak pilihan tempat makan
yang tersedia di sekitar Museum Taman Prasasti seperti, RM Masakan Padang, RM
khas Aceh serta warung makan yang berada di depan Walikota Jakarta Pusat. Itulah
rincian tentang bagaimana cara menuju Museum Taman Prasasti dan situasi di dalam
komplek museum.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar