Rabu, 02 Juni 2021

 

Tidak Lagi Mengundang Suasana Mistis, Inilah Museum Taman Prasasti

 

MUHAMMAD FARHAN NAUFAL

News Up – 03/06/2021, 10:30 WIB



Bekasi, News Up - Museum Taman Prasasti terletak di tengah Ibukota Indonesia yang menyuguhkan pemandangan gedung-gedung bertingkat saat saya melewati jalanan di ibukota dari Kota Bekasi menuju Tanah Abang, Jakarta Pusat.

 

Konon, terdapat Makam Belanda bernama Kebon Jahe Kober seluas 5 hektar yang ditempatkan di pusat Kota Batavia. Fakta ini tidak dapat dipungkiri karena makam tersebut yang kita sebut dengan Museum Taman Prasasti saat ini. Namun, makam tersebut telah direlokasikan ke beberapa tempat pemakaman di Jakarta dan diambil oleh ahli waris/ keluarga.

 

“Sekarang sudah tidak ada pemakaman, karena dulu pada masa pemerintahan Gubernur Ali Sadikin dipindahkan ke Tanah Kusir karena tidak mungkin kan ada pemakaman dekat dengan Walikota Jakarta Pusat dan Istana Negara, nanti menambah kisah mistis untuk para pejabat negara.” Jelas Eko Wahyudi, pemandu wisata Museum Taman Prasasti.

 

Seperti apa Museum Taman Prasasti sebenarnya ? Bapak Eko memandu saya untuk menelusuri seluruh sudut museum ini yang berkonsep luar ruangan dengan suasana yang adem akibat banyaknya pohon besar yang tumbuh.

 


Terdapat banyak makam-makam patung bidadari ketika memasuki pintu utama museum. Jika melihat ke sisi kiri, terdapat patung perempuan yang menangis.

 

“Perempuan itu menangis karena suaminya meninggal karena penyakit Malaria, setelah itu istrinya meninggal dengan menggantungkan diri”. Ujar Eko.

 

Tidak jauh dari patung perempuan menangis, terdapat dua peti jenazah di dalam kaca yang pernah digunakan oleh Bapak Proklamator Indonesia, Soekarno dan Moh. Hatta.

 

Sisi kiri dari dekat dengan peti jenazah Presiden dan Wakil Presiden Pertama Indonesia, terdapat makam istri dari Thomas Stamford Raffles yang bernama Olivia Mariamne Raffles.

 

Penelusuran museum ini mengundang suasana mistis setiap sudutnya mengingat kondisi museum ini sangat sepi pengunjung saat saya melakukan kunjungan. Walau saya ditemani oleh pemandu museum, suasananya pun sangat sunyi, tidak mendengar suara burung-burung berkicau layaknya pemakaman masih ada di dalam komplek museum ini.

 

“Untuk berita-berita yang beredar tentang museum ini angker itu hanyalah legenda buatan masyarakat yang sering diulang-ulang. Padahal museum ini telah merelokasikan seluruh makam-makamnya ke tempat lain sehingga kesan mistis tidak seperti dahulu ketika museum ini masih menyimpan makam-makam saat sebelum tahun 1975” Jelas Eko.

 

Walau museum ini telah berdiri sejak lama, bangunan-bangunan di dalam komplek Museum Taman Prasasti masih terawat dengan baik berbeda dengan beberapa peninggalan batu nisan dan patung bidadari yang sudah tidak menjadi kondisi baik disebabkan faktor alam.

 

“Kebetulan Orang-Orang Belanda memahat batu-batuannya dengan menggunakan bahan yang bagus karena jarang disini batu-batuan makamnya keropos, banyakan retak karena tumbuhnya akar-akar pohon besar.” Jelas Eko.

 

Perawatan yang dilakukan oleh museum terbagi menjadi dua bagian, perawatan ringan seperti membersihkan dedaunan dan jamur-jamur yang tumbuh di batu nisan maupun patung bidadari dan perawatan berat seperti menyambungkan koleksi patung bidadari yang patah hingga batu nisan yang retak.

 

Museum ini bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam hal melestarikan museum yang telah didirikan sejak lama. Selain itu, Pemprov DKI telah menyiapkan sebanyak 27 buah CCTV yang disebarkan di dalam komplek museum ini untuk mencegah terjadinya pencurian benda-benda prasejarah.

 

“Museum ini juga memiliki fasilitas satu pintu masuk dan keluar sehingga para pengunjung dapat diawasi dengan baik oleh pihak keamanan dari museum.” Kata Eko.


Dulunya lonceng yang difungsikan sebagai penanda kunjungan museum berakhir pada saat ini dijadikan sebagai penanda bahwa ada mayat yang ingin di makamkan di museum yang luasnya 1.3 hektar ini.

 

“lonceng yang terletak setelah pintu masuk museum sebenarnya digunakan untuk pemberitahuan jika ada orang kolonial yang ingin di makamkan.” Jelas Eko.

 

Saat ini Museum Taman Prasasti tidak mengadakan acara-acara khusus yang biasanya sering diadakan. Namun, acara tersebut dialihkan menjadi acara prewedding, pemotretan model-model dan berburu foto dari para fotografer.

 

“Kami sementara tidak mengadakan acara yang berbasis pengetahuan seperti tur sekolah karena kan lagi pandemi sekarang, tidak boleh ada kerumunan. Museum ini menyediakan persewaan untuk masyarakat seperti foto prewed, foto keluarga dan lainnya.” Jelas Eko.

 

“Wisatawan juga biasanya hanya melihat-melihat koleksi sejarah, penasaran apa seperti apa sih nisan-nisan yang terbuat dari Masa Kolonial saat menjajah Indonesia. Ada juga yang meminta pihak museum untuk menjelaskan seluruh legenda yang terjadi di museum ini, tapi paling sering sesi foto model ala kadarnya.” Kata Eko.

 

Meskipun pengunjung museum ini sangat sepi, pihak museum mencari berbagai metode untuk menarik perhatian masyarakat agar dapat melakukan kunjungan ke museum yang menyimpan banyak sejarah ini.

 

“Untuk menarik pengunjung adalah mempromosikan sosial media akun resmi @museumprasasti dimana tim sosial media museum memposting kegiatan-kegiatan yang dilakukan Pemprov DKI dalam mengawasi museum, jadwal operasional museum hingga kegiatan edukasi. Ditambah di dalam museum ini kan ada makam Soe Hok Gie, sastrawan muda Indonesia yang pernah dimakamkan disini.” Jelas Eko.

 

Museum ini dikenal dengan menyimpan batu-batu nisan yang unik berciri khas Kolonial Belanda dan Penjajahan Jepang. Museum Taman Prasasti bisa diakses melalui Stasiun Commuter Line Tanah Abang, setelah itu dapat menggunakan Mikrolet M 08 jurusan Tanah Abang – Kota dan turun di depan Gedung Walikota Jakarta Pusat.  

 

Lalu, wisatawan dapat menggunakan Transjakarta dan turun di Halte Monas, setelah itu berjalan kaki sepanjang 1.1 Km menyusuri samping Gedung Kementerian Komunikasi dan Informatika dan berbelok ke kanan menuju Jalan Abdul Muis dan berbelok ke kiri menuju Jalan Tanah Abang 1 dan tidak jauh, museumnya tepat berada di depan persimpangan dan sampingnya terlihat Gedung Walikota Jakarta Pusat.

 

Untuk pertama kali ke museum ini, para pengunjung disarankan untuk menggunakan tur museum secara gratis karena tarif tiket sebesar Rp. 5.000 untuk dewasa, Rp. 3.000 untuk mahasiswa dan Rp. 2.000 untuk anak-anak ,- telah mendapatkan tur museum yang akan dipandu oleh pemandu wisata.

 

Bagi wisatawan muslim, terdapat Musholla yang disediakan di dalam komplek museum ini mengingat cukup sulit menemukan tempat ibadah diluar komplek museum jika ingin melaksanakan sembahyang.

 

Wisatawan yang berasal dari luar Jakarta, wisatawan dapat menemukan hotel-hotel dengan harga terjangkau yang tersedia di sekitar museum ini seperti di Jalan Cideng Barat dan Timur, Jalan Gajah Mada, Jalan Ir. H. Juanda.


Para wisatawan pun tidak perlu kesulitan dalam mencari kuliner setelah melakukan kunjungan ke museum ini karena terdapat banyak pilihan tempat makan yang tersedia di sekitar Museum Taman Prasasti seperti, RM Masakan Padang, RM khas Aceh serta warung makan yang berada di depan Walikota Jakarta Pusat. Itulah rincian tentang bagaimana cara menuju Museum Taman Prasasti dan situasi di dalam komplek museum.